phone: +420 776 223 443
e-mail: support@londoncreative.co.uk

Kerusakan Hutan Riau Memprihatinkan

Kerusakan hutan di Indonesia saat ini makin parah akibat terjadinya praktek ilegal logging atau penebangan liar. Saat ini, lahan kritis di Indonesia mencapai 43 juta hektar dari luas hutan Indonesia sekitar 125 juta hektar. Salah satu kerusakan yang paling parah terjadi yakni di Provinsi Riau.
Kerusakan hutan di Indonesia dari tahun ke tahun semakin parah. Bahkan, lahan kritis sudah mencapai 43 hektar dari 125 juta hektar luas hutan di Indonesia. Salah satu kerusakan hutan yang parah terjadi di Provinsi Riau. Dari 4,5 juta hektar kawasan konservasi, hutan produksi dan perkebunan, kini hanya tinggal 1,5 juta hektar yang tersisa.
Bahkan, laju kerusakan hutan atau deforestasi dalam dua tahun terakhir mencapai 100 ribu hektar per tahun atau 11 hektar per jam. Jika ini dibiarkan diprediksikan tahun 2005 mendatang, hutan di Riau akan musnah.

Manfa'at Jengkol dan Pete

Dibalik bau yang ditimbulkan jengkol, ternyata terkandung manfaat yang berguna bagi kesehatan. Ini hanya masukan saja, bukan doktrin yang mengharuskan Anda untuk percaya dan mengikuti agar mengkonsumsi jengkol pula, tapi hanya sekedar Anda tahu bahwa ada khasiat dibalik sayuran polong berbau ini.


Jengkol atau jering dalam bahasa latin Pithecollobium Jiringa atau Pithecollobium Labatum adalah tumbuhan khas di wilayah Asia Tenggara, termasuk yang digemari di Malaysia, Thailand dan Indonesia terutama di wilayah Jawa Barat yang seharinya dikonsumsi ±100 ton. Jengkol termasuk tanaman polong-polongan. Buahnya berupa polong dan bentuknya gepeng berbelit, berwarna lembayung tua. Biji buah berkulit ari tipis dengan warna coklat mengilap. Jengkol dapat menimbulkan bau tidak sedap setelah diolah dan diproses oleh pencernaan.

Manfaat Ikan untuk Kesehatan

SETELAH mengetahui ikan mempunyai kandungan gizi sangat banyak, maka ikan perlu diperhitungkan sebagai sumber zat gizi yang penting. Pola kebiasaan makan ikan seperti pada masyarakat Eskimo dan Jepang memberi petunjuk kuat atas sangat rendahnya kejadian penyakit jantung dan penyakit degeneratif lainnya pada masyarakat tersebut. 


Penelitian pada kelompok masyarakat yang mengkonsumsi ikan secara kontinyu dan ikan menjadi pangan dominan seperti pada orang Eskimo menunjukkan, jenis lemak di dalam ikan (asam linoleat) setelah melalui proses metabolisme dalam tubuh manusia akan menghasilkan asam lemak yang kemudian dikenal dengan nama omega 3.

Omega 3 yang terdapat pada ikan mencegah penyakit jantung dan penyakit degeneratif lainnya. Bahkan ada indikasi masyarakat yang gemar mengkonsumsi ikan memiliki umur harapan hidup rata-rata lebih panjang daripada masyarakat yang kurang mengkonsumsi ikan.

Makan Ikan Biar Sehat


Sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang sangat luas, sebenarnya Indonesia sangat unggul dalam hal produksi ikan dan makanan laut. Sayangnya, konsumsi masyarakat akan produk seafood yang kandungan gizinya mencerdaskan sekaligus menyehatkan itu masih rendah.
Menurut data, konsumsi ikan nasional saat ini baru mencapai 19.14 kg per kapita per tahun. Idealnya, kita mengonsumsi 24,0 kg/ kapita/tahun. Bandingkan dengan konsumsi ikan di Jepang yang mencapai 110 kg/kapita, Amerika 80 kg, Singapura 80 kg, serta Malaysia 45 kg. Sebagai negara bahari, jelas kita sangat ketinggalan.
Sampai saat ini posisi Jepang sebagai negara pengonsumsi ikan terbesar di dunia masih tak tergoyahkan. Tak heran bila Negara Matahari Terbit itu unggul dalam berbagai bidang. Umur harapan hidup rata-rata penduduk Jepang saat ini juga menempati posisi tertinggi di dunia, yaitu 76,3 tahun untuk pria dan 82,5 tahun untuk wanita.

Khasiat dan Kandungan Gizi Tempe

Tempe berpotensi untuk digunakan melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif (aterosklerosis, jantung koroner, diabetes melitus, kanker, dan lain-lain). Selain itu tempe juga mengandung zat antibakteri penyebab diare, penurun kolesterol darah, pencegah penyakit jantung, hipertensi, dan lain-lain.
Komposisi gizi tempe baik kadar protein, lemak, dan karbohidratnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan kedelai. Namun, karena adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang tempe, maka protein, lemak, dan karbohidrat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Oleh karena itu, tempe sangat baik untuk diberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi hingga lansia), sehingga bisa disebut sebagai makanan semua umur.
Dibandingkan dengan kedelai, terjadi beberapa hal yang menguntungkan pada tempe. Secara kimiawi hal ini bisa dilihat dari meningkatnya kadar padatan terlarut, nitrogen terlarut, asam amino bebas, asam lemak bebas, nilai cerna, nilai efisiensi protein, serta skor proteinnya. 
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap, dan dimanfaatkan tubuh dibandingkan dengan yang ada dalam kedelai. Ini telah dibuktikan pada bayi dan anak balita penderita gizi buruk dan diare kronis.
Denga pemberian tempe, pertumbuhan berat badan penderita gizi buruk akan meningkat dan diare menjadi sembuh dalam waktu singkat. Pengolahan kedelai menjadi tempe akan menurunkan kadar raffinosa dan stakiosa, yaitu suatu senyawa penyebab timbulnya gejala flatulensi (kembung perut).

Sukses Sejati Tidak Identik Dengan Kecerdasan

Mengapa begitu banyak orang yang sukses di dunia ini namun lebih banyak lagi mereka yang tidak sukses alias gagal? Apakah sukses hanya milik segelintir orang saja? Atau merupakan sebuah keberuntungan semata yang erat kaitannya dgn nasib, bakat atau mungkin kecerdasan?
Mungkin acapkali kita mendengar teman, atau sahabat, keluarga ataupun kolega kita yang berkata "ah, wajar kalo dia sukses, lha wong orangnya pintar kok" atau "dia memang beruntung, makanya dia bisa berhasil" ataupun barangkali seperti "si anu memang berbakat di bidang itu, makanya ga heran kalo dia bisa sukses" dan seterusnya dan seterusnya.
Sejatinya sukses itu tidaklah selalu identik dengan kecerdasan atau kepintaran. Banyak orang pintar dan cerdas di muka bumi ini, namun begitu banyak pula yg tidak berhasil. Contoh kecil misalnya, para sarjana yang kian hari kian memperpanjang daftar pengangguran di negeri ini. Mereka bukanlah orang-orang bodoh tapi rata-rata tidak sukses dalam universitas kehidupan. Maka tidak heran jika banyak orang sukses tak bergelar dan orang bergelar tapi tidak sukses.
Sukses juga tidak melulu paralel dengan kata yang bernama nasib ataupun keberuntungan. Apakah pelawak Narji Cagur yang kerap muncul di pelbagai stasiun TV begitu beruntungnya hingga dapat berubah bagai bumi dan langit dari yang dulunya pemulung menjadi artis ngetop seperti sekarang ini?

Bahaya Merokok Bagi Kesehatan

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, yang menjadi kebutuhan dasar derajat kesehatan masyarakat, salah satu aspeknya adalah “tidak ada anggota keluarga yang merokok“. Sedangkan PHBS harus menjadi kewajiban saya dan para kader kesehatan untuk mensosialisasikannya.
Setiap kali menghirup asap rokok, entah sengaja atau tidak, berarti juga mengisap lebih dari 4.000 macam racun! Karena itulah, merokok sama dengan memasukkan racun-racun tadi ke dalam rongga mulut dan tentunya paru-paru. Merokok mengganggu kesehatan, kenyataan ini tidak dapat kita mungkiri. Banyak penyakit telah terbukti menjadi akibat buruk merokok, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebiasaan merokok bukan saja merugikan si perokok, tetapi juga bagi orang di sekitarnya.
Saat ini jumlah perokok, terutama perokok remaja terus bertambah, khususnya di negara-negara berkembang. Keadaan ini merupakan tantangan berat bagi upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Bahkan organisasi kesehatan sedunia (WHO) telah memberikan peringatan bahwa dalam dekade 2020-2030 tembakau akan membunuh 10 juta orang per tahun, 70% di antaranya terjadi di negara-negara berkembang.
Melalui resolusi tahun 1983, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan tanggal 31 Mei sebagai Hari Bebas Tembakau Sedunia setiap tahun.

Total Kunjungan Pembaca